Roma 8:2
Sebab hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.
Yeremia 31:33 mengatakan, “Tetapi beginilah perjanjian yang akan Kuikat dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku [hukum-Ku] dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Ayat ini berbicara tentang satu hukum—”hukum-Ku”—dan bagian batin kita. Oleh karena itu, Allah menaruh satu hukum-Nya ke dalam banyak bagian batin kita. Allah juga menuliskan hukum ini di dalam hati kita. Ibrani 8:10, yang merupakan kutipan dari Yeremia, mengatakan, “Maka inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, firman Tuhan: Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Sementara Yeremia berbicara tentang satu hukum, penulis Ibrani berbicara tentang banyak hukum (bentuk jamak). Dengan demikian, satu hukum tersebut menjadi banyak hukum. Tidak hanya itu, sementara Yeremia menyatakan bahwa Allah akan menaruh hukum-Nya ke dalam batin kita, penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa Allah akan menaruh hukum-hukum-Nya ke dalam akal budi kita. Hal ini membuktikan bahwa akal budi adalah salah satu dari bagian batin. Dalam Ibrani 10 kita membaca bagian yang serupa: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu, firman Tuhan: Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka” (ay. 16). Di sini, sama seperti di 8:10, kita membaca tentang banyak hukum. Namun, kali ini, alih-alih ditaruh ke dalam batin atau akal budi kita, hukum-hukum itu ditaruh ke dalam hati kita. Pada frasa berikutnya, alih-alih Tuhan menuliskan hukum-hukum tersebut ke dalam hati kita, Dia menuliskannya pada akal budi kita.
DUA HUKUM
Hukum dari perjanjian baru, yang terdapat dalam Perjanjian Baru, adalah hukum hayat. Hukum perjanjian baru, dari wasiat yang baru, adalah hukum Roh hayat (Rom. 8:2). Hukum Roh hayat ini pada dasarnya adalah hukum hayat. Hukum Musa, yang merupakan pusat dari perjanjian lama, ditulis pada loh-loh batu. Hukum yang menjadi pusat perjanjian baru, yaitu hukum hayat, tidak ditulis pada loh batu melainkan pada hati kita. Selain itu, hukum yang baru ini, berbeda dengan hukum yang lama, tidak ditulis dengan huruf-huruf melainkan dengan Roh (2 Kor. 3:3, 6). Hukum ini secara sederhana adalah hayat Kristus, yang adalah hayat Allah. Hayat Allah adalah Allah itu sendiri. Jika kita memiliki Allah di dalam Kristus, kita memiliki hayat Allah; jika kita tidak memiliki Allah di dalam Kristus, kita tidak memiliki hayat Allah (1 Yoh. 5:12; 2:23). Hayat Allah dan hukum hayat Allah dengan demikian adalah Allah itu sendiri di dalam Kristus. Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa sebagai kesaksian Allah adalah gambaran tentang Allah kita. Hukum ini menyingkapkan kepada kita Allah yang seperti apakah Dia. Hukum yang ditulis oleh orang-orang mengungkapkan orang seperti apakah mereka. Sebagai contoh, jika perampok yang membuat hukum, kita akan menyadari dari hukum-hukum mereka bahwa mereka adalah perampok. Dengan cara yang sama, hukum yang ditulis oleh Allah pada dua loh batu adalah gambaran dan definisi dari Allah itu sendiri.
HUKUM PERJANJIAN BARU - ALLAH SENDIRI DENGAN SIFAT-SIFAT-NYA
Hukum yang lama hanya memberi tahu kita Allah yang seperti apa Dia, tetapi hukum yang baru adalah Allah itu sendiri yang masuk ke dalam diri kita. Hukum yang lama menyingkapkan kepada kita bahwa Allah adalah kasih, kudus, adil, dan terang, tetapi hukum yang baru, Allah yang adalah kasih, kekudusan, keadilan, dan terang itu sendiri yang masuk ke dalam kita untuk menjadi kasih, kekudusan, keadilan, dan terang bagi kita. Hukum yang lama hanyalah gambaran tentang Allah. Dengan hukum itu, Allah tetap berada di luar kita. Namun, melalui kelahiran kembali, Allah itu sendiri telah masuk ke dalam kita sebagai hukum perjanjian baru.
Sama seperti hukum lama memiliki sepuluh unsur utama (perintah), hukum yang baru juga memiliki sejumlah unsur. Karena Allah itu kudus, adil, dan penuh kasih, maka kekudusan, keadilan, dan kasih Allah adalah unsur-unsur, atau hukum-hukum, dari hukum yang baru ini. Pengalaman kita meneguhkan kebenaran ini. Seorang saudara pernah pergi ke sebuah toko untuk membeli sesuatu. Ketika dia membayar barang tersebut, kasir memberinya terlalu banyak kembalian. Dia tergoda untuk tidak mengatakan apa-apa kepada kasir, mengambil kelebihan kembalian tersebut, dan pergi. Namun, pada saat yang sama ada sesuatu di dalam dirinya yang mengaturnya secara hidup, mendorongnya untuk memberi tahu kasir tentang kesalahannya dan mengembalikan uang lebih tersebut. Ini adalah keadilan dari hayat Allah sebagai salah satu unsur hukum baru yang mengatur saudara ini. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin Dia akan "merepotkan" kita, dan semakin ketat pula pengaturan dari dalam batin yang Ia lakukan. Pengaturan batin ini adalah hukum yang baru, hukum hayat, yaitu Allah sendiri di dalam Kristus.
HASIL DARI PENGATURAN BATIN HUKUM KEHIDUPAN
Hasil dari pengaturan batin hukum hayat ini adalah kita diubahkan dan menjadi serupa dengan gambar Kristus (Rom. 8:2, 29). Setiap hari, setiap jam, dalam segala hal, dan di setiap tempat, hukum yang hidup ini, yaitu Allah di dalam Kristus sebagai Roh, sedang mengatur kita. Semakin kita diatur oleh hukum ini, semakin kita diubahkan ke dalam gambar Kristus. Kita berada di zaman Perjanjian Baru. Pada zaman ini kita memiliki satu hukum. Hukum ini adalah Allah Tritunggal sebagai Roh di dalam kita menjadi hukum yang hidup mengatur kita setiap saat dari dalam. Pada sisi negatif, pengaturan-Nya memerdekakan kita dari segala dosa (8:2). Pada sisi positif, hal itu mengubahkan kita ke dalam gambar Allah. Inilah fungsi dan hasil dari hukum hayat yang ajaib tersebut.
Tujuan dan maksud Allah yang mulia adalah untuk membaurkan diri-Nya dengan kita dan menjadikan kita sama seperti Dia. Dia kudus, maka Dia akan menjadikan kita kudus (Im. 11:44; 1 Ptr. 1:16). Dia adil benar, maka Dia akan menjadikan kita adil benar (bdk. Dan. 9:14; 2 Kor. 5:21). Dia adalah kasih, maka Dia akan menjadikan kita kasih (1 Yoh. 4:8; 3:14). Dia adalah terang, maka Dia akan menjadikan kita terang (1:5; Ef. 5:8). Tetapi bagaimana Allah dapat menggenapi tujuan yang mulia ini di dalam diri kita, orang-orang berdosa yang telah jatuh? Pertama, Dia menyucikan kita dengan darah penebusan Kristus. Kedua, sebagai Roh, Dia, Allah Tritunggal yang kudus, masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat bagi kita dan senantiasa mengatur kita sebagai sebuah hukum. Melalui operasi dari diri-Nya sendiri sebagai hukum hayat batiniah inilah Allah mengubah kita ke dalam gambar-Nya dan menjadikan kita sama seperti Dia.
Sumber: Experiencing Christ as the Inner Life, Chp 3.