Yohanes 6꞉63
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan‑perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
Setelah seseorang percaya kepada Tuhan dan diselamatkan, ia tidak seharusnya hanya datang ke sidang untuk mendengarkan berita. Sebaliknya, ia harus setiap hari menerima Tuhan sebagai makanan, yaitu makan, minum, dan menyerap Tuhan itu sendiri, dan dengan demikian dipelihara oleh‑Nya. Dalam Yohanes 6꞉35 Tuhan Yesus berkata, "Akulah roti kehidupan; Siapa saja yang datang kepada‑Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada‑Ku, ia tidak akan pernah haus lagi.." Dalam ayat 54 dan 55 Dia juga berkata, "Siapa saja yang makan daging‑Ku dan minum darah‑Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.. Sebab daging‑Ku benar‑benar makanan dan darah‑Ku benar‑benar minuman." Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia dapat dimakan dan diminum. Makan dan minum berarti menerima makanan ke dalam kita sehingga, setelah dicerna dan diasimilasi, ia menjadi gizi dan unsur pembentuk tubuh kita agar kita dapat hidup karenanya. Ketika kita menggunakan roh kita untuk makan, minum, dan menyerap Tuhan, Dia menjadi suplai hayat dan unsur pembentuk kita sehingga kita dapat hidup karena Dia (ay. 57).
Dalam Perjanjian Lama, nabi Yeremia, berkata, "Apabila aku bertemu dengan perkataan‑perkataan‑Mu, maka aku menikmatinya (memakannya, Tl); firman‑Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama‑Mu telah diserukan atasku, ya Tuhan, Allah semesta alam." (Yer. 15꞉16). Di dalam Perjanjian Baru, Injil Matius mengatakan, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (4꞉4). Perkataan di dalam Alkitab adalah firman yang keluar dari mulut Allah, dan karenanya, firman itu adalah makanan kita. Dengan membaca Alkitab, kita menerima firman Allah sebagai makanan ke dalam kita dan diberi makan. Dengan cara ini Allah menyuplai kita secara batiniah dengan diri‑Nya sendiri untuk menjadi perawatan batin kita dan unsur diri kita.
PERSEKUTUAN KITA DENGAN TUHAN MEMILIKI DUA REL
Allah menciptakan tubuh manusia dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dan dua kaki. Fungsi dari organ‑organ ini berpasangan dan seimbang. Demikian pula, persekutuan kita dengan Tuhan memiliki dua rel. Rel pertama adalah berdoa, dan rel lainnya adalah membaca Alkitab. Setelah bangkit dari antara orang mati, Tuhan menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15꞉45b). Ketika seseorang menggunakan rohnya untuk berkontak dengan Tuhan, ia menyerap Tuhan itu sendiri. Cara terbaik untuk menyerap Tuhan adalah doa. Doa yang sejati terjadi ketika kita berada di dalam roh, menggunakan roh kita untuk menjamah Roh Tuhan dan bersekutu dengan‑Nya. Seperti udara, Roh Tuhan hanya dapat diterima melalui pernapasan kita. Dengan kata lain, cara bagi kita untuk menyerap Tuhan bukanlah sekadar dengan memahami kebenaran atau mendengarkan berita, tetapi dengan berdoa saat demi saat untuk menghirup Dia ke dalam kita, sama seperti kita menghirup udara. Alkitab juga mengatakan bahwa kita "semua diberi minum dari satu Roh" (1 Kor. 12꞉13). Ini berarti bahwa Roh adalah seperti air yang dapat kita terima ke dalam kita dengan cara minum. Tuhan tidak hanya seperti udara untuk kita hirup, tetapi juga seperti air untuk kita minum. Sama seperti kita perlu minum air berkali‑kali dalam satu hari, kita juga harus minum Tuhan berkalikali dalam satu hari.
MENJAMAH ROH DAN HAYAT DI DALAM FIRMAN
Yohanes 1꞉1 mengatakan, "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama‑sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah." Allah adalah Firman, dan firman yang diucapkan oleh‑Nya menyalurkan Allah itu sendiri. Dua Timotius 3꞉16 mengatakan, “Seluruh Kitab Suci dihembuskan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." Banyak orang memperhatikan bagian akhir dari ayat ini, menganggap bahwa Alkitab hanya untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, serta memberikan bimbingan dan bantuan bagi penghidupan dan kelakuan mereka. Namun, mereka mengabaikan bagian pertama dari ayat tersebut꞉ "Seluruh Kitab Suci dihembuskan Allah." Seluruh Kitab Suci sebagai hembusan nafas Allah menunjukkan bahwa itu adalah ekspresi Allah itu sendiri dan menyalurkan Allah itu sendiri. Membaca Alkitab tidak hanya agar kita menerima ajaran, teguran, perbaikan kelakuan, atau didikan yang bermanfaat. Lebih dari itu, ini adalah untuk kita menyerap Allah itu sendiri.
Perkataan yang diucapkan oleh seseorang mewakili orang tersebut. Kita tidak dapat menyadari kondisi riil seseorang hanya dengan melihat penampilannya. Beberapa orang mungkin terlihat kasar di luar, dan beberapa mungkin terlihat lembut, tetapi penampilan lahiriah ini mungkin tidak sesuai dengan sifat batiniah mereka. Inilah yang kita maksud dengan mengatakan, "Jangan menilai seseorang dari penampilannya." Akan tetapi, begitu seseorang membuka mulutnya untuk berbicara, substansi atau sifat batiniahnya termanifestasi sehingga orang lain dapat mengetahui orang macam apakah dia. Semakin banyak ia berbicara, semakin ia menyingkapkan siapa dirinya, dan semakin mudah bagi orang lain untuk melihat ke dalam dirinya. Segera setelah seseorang berbicara, ia menyingkapkan keberadaannya. Kita bersyukur kepada Allah kita bahwa Dia sendiri adalah Firman. Firman-Nya adalah benar dan bukanlah dusta. Perkataan di dalam Alkitab adalah ekspresi dan hembusan nafas Allah. Yohanes 1꞉4 mengatakan, "Di dalam Dia ada hayat." Substansi firman Allah adalah Allah sendiri yang adalah hayat. Allah tidak hanya memanifestasikan diri‑Nya kepada kita melalui firman‑Nya, tetapi lebih dari itu Dia menghembuskan diri‑Nya keluar sehingga kita dapat menghirup Dia ke dalam kita dan menerima hayat‑Nya.
Hanya ada satu Alkitab di dunia ini, tetapi ada banyak pemahaman yang berbeda mengenainya. Saya mengenal seorang ilmuwan yang dulunya berpikir bahwa orang‑orang Kristen adalah orang‑orang yang percaya takhayul, tetapi kemudian ia menyadari bahwa perkataan di dalam Alkitab sebenarnya memiliki dasar ilmiah. Ia menemukan bahwa Ayub 38 sampai 41 berbicara tentang banyak hal mengenai ilmu fisika dan biologi alam semesta, yang sama sekali bukan perkara takhayul. Setelah ini ia tidak lagi berani mencaci atau meremehkan Alkitab. Selain itu, Bapak Hu Shih‑chih, ahli sastra Tionghoa, membaca Alkitab dan menganggapnya sebagai karya sastra yang sangat baik. Dari sini kita dapat melihat bahwa pemahaman seseorang terhadap Alkitab bergantung pada orang macam apakah dia.
Meskipun Alkitab ditulis di atas hitam dan putih, kita tidak bisa hanya membacanya sebagai doktrin atau ajaran. Tuhan adalah Roh, dan Dia juga adalah Firman, dan Dia dapat dinikmati oleh kita. Dalam Yohanes 6꞉63 Tuhan berkata, "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup." Ketika kita membaca Alkitab, kita tidak boleh tinggal dalam huruf‑huruf yang dangkal, tetapi harus menyentuh roh dan hayat di dalam firman itu dan menikmati Allah itu sendiri. Semoga kita memiliki pemahaman yang tepat mengenai Alkitab, sehingga melalui membacanya, kita dapat makan, minum, dan menikmati Allah itu sendiri serta menghirup Dia ke dalam kita saat demi saat untuk menjadi suplai hayat kita.
Sumber꞉ The Practice of Enjoying God by Eating and Drinking Him, CWWL, 1958, vol. 2, chp 5.