Filipi 2꞉13
“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan‑Nya.”
PUSAT DAN TUJUAN KESELAMATAN ALLAH ADALAH ALLAH MENJADI HAYAT MANUSIA
Titik pusat dari keselamatan Allah adalah bahwa Allah, menurut hasrat‑Nya, ingin menjadi hayat manusia. Kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa pengampunan dosa adalah perkara yang paling krusial dalam keselamatan Tuhan, tetapi sebenarnya, ini hanyalah salah satu langkah. Keselamatan Allah tersusun dari aspek luaran dan aspek batiniah. Aspek luaran adalah Tuhan mencurahkan darah‑Nya bagi kita agar kita diampuni dan dibersihkan dari dosa‑dosa kita, dengan demikian dibenarkan oleh Allah. Aspek ini adalah prosedurnya. Aspek batiniah adalah Tuhan menjadi Roh pemberi‑hayat untuk masuk ke dalam roh kita untuk menjadi hayat kita. Ini adalah tujuan utama keselamatan. Kita dapat mengilustrasikan hal ini dengan cangkir dan piring yang jatuh ke dalam air kotor, sehingga kita perlu mencucinya. Namun, pencucian itu tidak hanya untuk menyingkirkan kotoran tetapi juga untuk memulihkan fungsi mereka, yaitu menampung minuman dan makanan.
PENCIPTAAN DAN KEJATUHAN MANUSIA SERTA KESELAMATAN ALLAH
Menurut catatan dalam Kejadian 2, Allah menempatkan manusia yang diciptakan‑Nya di depan pohon hayat dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di taman Eden (ay. 8‑9). Allah memberi perintah kepada manusia, "Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (ay. 16‑17). Pohon hayat menandakan Allah sebagai hayat bagi manusia. Ini mengindikasikan bahwa Allah ingin manusia, sebagai bejana yang terbuka, makan Dia dan menerima Dia agar Dia dapat menjadi hayatnya. Jika manusia telah memakan buah pohon hayat, yaitu, jika ia telah menerima Allah sebagai hayat, ia pasti akan penuh dengan kelincahan, kekuatan, kesegaran, terang, dan unsur‑unsur kaya lainnya dari hayat ilahi. Namun, manusia digoda oleh ular untuk makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (3꞉1‑6) sehingga menerima hayat Iblis. Kemudian dosa, unsur beracun Iblis, masuk ke dalam manusia, dan manusia jatuh dan menjadi orang berdosa. Dengan demikian, manusia terasing dari Allah dan jatuh ke dalam kondisi kegelapan, kekacauan, kekosongan, dan maut. Ini merupakan suatu rintangan bagi rencana dan tujuan Allah mengenai manusia.
Namun, setelah manusia jatuh, Allah tidak menyerah melepaskannya. Allah sendiri datang untuk menyelamatkan manusia dengan mencari dia dan membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk dikenakannya (ay. 8‑9, 21). Ini menggambarkan Allah mengutus Putra kekasih-Nya untuk menjadi manusia yaitu, Allah menjadi daging untuk mati di atas salib bagi orang berdosa yang jatuh, merampungkan pekerjaan penebusan (Yoh. 3꞉16‑17) sehingga orang‑orang berdosa yang jatuh dan cemar dapat diampuni oleh‑Nya, dibersihkan, dan dibawa kembali ke dalam hadirat‑Nya dengan baru. Tiga hari setelah Putra Allah disalibkan demi dosa manusia, Dia bangkit dan menjadi Roh pemberi‑hayat (1 Kor. 15꞉45b) sehingga Dia dapat masuk ke dalam mereka yang percaya dan menerima‑Nya untuk berdiam di dalam mereka demi perampungan tujuan‑Nya bagi keselamatan manusia.
ORANG‑ORANG YANG DISELAMATKAN TIDAK HANYA MEMILIKI DAMAI SEJAHTERA MELALUI PENGAMPUNAN DOSA TETAPI JUGA KRISTUS YANG BERDIAM DI DALAM DAN ROH KUDUS YANG BEROPERASI
Setelah seorang percaya memiliki hayat Tuhan di dalam dirinya, seolah‑olah ia memiliki "pengawas" di dalam dirinya. Jika ia melakukan sesuatu yang salah, Tuhan bersinar atasnya, dan Roh Kudus beroperasi di dalam dirinya sehingga ia merasa dihukum dan tidak tenang dalam hati nuraninya serta kehilangan kesadaran akan hadirat Tuhan. Setelah menerima keselamatan, seorang percaya tidak hanya memiliki damai sejahtera melalui pengampunan dosa tetapi juga Kristus yang berdiam di dalam dan Roh Kudus yang beroperasi. Banyak orang percaya baru utamanya hanya mempertimbangkan pengampunan dosa. Sangat sedikit yang memperhatikan perkara‑perkara hayat di dalam batin dan karena itu tidak melihat bahwa niat Allah adalah berdiam di dalam mereka sebagai hayat mereka. Karena itu, kita harus menolong mereka mengetahui bahwa setelah diselamatkan, mereka memiliki Allah yang berdiam di dalam mereka sebagai hayat mereka. Inilah tujuan keselamatan Allah.
ALLAH BEROPERASI DI DALAM MANUSIA BAIK KEMAUAN MAUPUN PEKERJAAN
Filipi 2꞉13 mengatakan, "Karena Allahlah yang mengerjakan (beroperasi) di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan‑Nya." Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "mengerjakan/ beroperasi" setara dengan kata bahasa Inggris “energize”. Ini berarti menguatkan, memberi kekuatan, atau diberi kekuatan. Mari kita gunakan sebuah analogi. Ketika kipas angin listrik dicolokkan dan ada aliran listrik mengalir melaluinya, bilah‑bilah kipas berputar dengan kuat. Ayat ini mengindikasikan bahwa baik kemauan batin maupun pekerjaan luaran berasal dari Allah yang beroperasi dan menguatkan di dalam kita. Dalam zaman hukum Taurat di Perjanjian Lama, hukum Taurat ada di luar manusia, memberikan tuntutan-tuntutan terhadapnya. Dalam zaman kasih karunia di Perjanjian Baru, kasih karunia adalah Allah sendiri di dalam manusia untuk menyuplainya. Ketika kita diselamatkan, Allah masuk ke dalam kita untuk berdiam di dalam roh kita. Ketika sebuah lampu atau peralatan listrik dicolokkan, ia tidak bisa tidak memancarkan terang, memancarkan panas, dan beroperasi oleh aliran listrik. Sama halnya, karena Allah adalah sumber suplai dan kuasa yang menggerakkan di dalam kita, kita tidak bisa tidak mengasihi orang lain, berbuat baik, serta menjadi benar dan kudus.
TINGGAL DI DALAM TUHAN MENURUT URAPAN BATIN DAN BERLATIH MENJADI SATU DENGAN ALLAH
Satu Yohanes 2꞉27 mengatakan, "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan‑Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaran‑Nya itu benar, bukan dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” Ini memberitahu kita bahwa orang‑orang Kristen dalam penghidupan sehari‑harinya memiliki urapan Allah yang mengajar di dalam mereka sehingga mereka dapat hidup dan berjalan menurut ajaran‑Nya. Dalam Yohanes 14 Tuhan berkata, "Barangsiapa memegang perintah‑Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa‑Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan Diri‑Ku kepadanya... dan Kami akan datang kepadanya dan mendirikan tempat tinggal bersama dengan dia" (ay. 21, 23). Dia yang menuruti perintah‑perintah Tuhan adalah orang yang mengasihi‑Nya. Kepada orang semacam inilah Tuhan akan menyatakan Diri‑Nya dan menjadikannya tempat tinggal bersama. Ini berarti bahwa Allah akan tinggal di dalam dia, dan dia akan tinggal di dalam Allah untuk menjadi satu dengan Allah dan dipenuhi dengan Dia sepenuhnya. Kita harus belajar tinggal di dalam Tuhan menurut ajaran urapan batin, dan kita perlu berlatih mengasihi Allah dan menjadi satu dengan Dia. Walaupun pada mulanya ini mungkin tidak mudah, semakin kita berlatih, kita akan menjadi semakin terampil. Hal ini dapat dibandingkan dengan belajar mengendarai sepeda. Pada awalnya seseorang mungkin jatuh berulang‑ulang, tetapi semakin ia berlatih, ia menjadi semakin stabil, dan ia semakin dapat mengendalikan sepeda tersebut dengan bebas. Saya berharap Tuhan akan mengurapi kita di batin dengan semua perkataan ini agar kita semua dapat disuplai, dikuatkan, dan penuh dengan hadirat‑Nya di batin.
Sumber꞉ The Practice of Enjoying God by Eating and Drinking Him, CWWL, 1958, vol. 2, chp 7.