Artikel

Menikmati Allah Melalui Doa

04 Oct 2026
6 menit baca

Mazmur 42꞉3

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah

MAKNA DOA

Doa kita tidak seharusnya berpusat pada meminta banyak hal kepada Allah. Tujuan doa kita bukanlah perkara‑perkara, melainkan Allah itu sendiri. Berdoa kepada Tuhan untuk meminta berbagai hal adalah hal yang sekunder. Yang terutama adalah datang ke hadapan Allah untuk menyerap Allah itu sendiri. Lebih dari itu, doa adalah Allah berdoa di dalam kita. Ini adalah perkara Allah dan manusia, manusia dan Allah, keduanya berbaur menjadi satu. Ini sesuai dengan Roma 8꞉26‑27, yang mengatakan, "Kita tidak tahu apa yang harus kita doakan sebagaimana mestinya, tetapi Roh itu sendiri bersyafaat bagi kita dengan keluhan‑keluhan yang tidak terucapkan. Tetapi Dia yang menyelidiki hati, mengetahui apa pikiran Roh itu, karena Dia bersyafaat bagi orang‑orang kudus menurut Allah." Hari ini Allah bukan hanya berada di surga, melainkan juga ada di dalam kita, sama seperti gelombang radio di udara dan di dalam radio. Gelombang radio selalu ada di udara. Kapanpun dan dimanapun kita berada, ketika kita menyalakan radio, gelombang tersebut akan masuk ke dalamnya.


PRAKTIK BERDOA

Pertama, kita perlu menjamah Allah. Ketika kita berdoa kepada Allah, kita perlu menjamah Dia, rindu melihat wajah‑Nya dan menjamah hadirat‑Nya. Doa pada dasarnya adalah untuk melihat wajah Tuhan. Kedua, kita perlu menatap Allah. Setelah kita menjamah Allah, kita tidak seharusnya cepat‑cepat membuka mulut kita untuk berbicara tanpa henti. Mazmur 27꞉4 mengatakan, "Satu hal telah kuminta kepada Tuhan...tinggal di dalam rumah Tuhan seumur hidupku, untuk menatap keindahan Tuhan (Tl)." Menatap keindahan Tuhan berarti memandang Dia. Kita harus belajar menghentikan segala perkataan kita dan terlebih dahulu menatap Allah di dalam roh kita.

Ketiga, kita perlu berdiam diri. Orang yang tahu bagaimana berdiam diri adalah orang yang tahu bagaimana berdoa. Mazmur 62꞉6 mengatakan, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang”. Ketika kita berdoa, kita tidak boleh terburu‑buru membuka mulut kita. Jika kita tergesa‑gesa membuka mulut kita, Allah akan menghilang. Pada prinsipnya, doa yang baik adalah doa yang diam. Terkadang berdiam diri lebih baik daripada mengucapkan sesuatu. Keempat, kita harus belajar menunggu. Orang Mandarin memiliki pepatah, "Suami bernyanyi, dan istri turut menyanyi." Doa sebenarnya adalah "Allah bernyanyi dan manusia turut menyanyi." Ketika kita berdiam dan menunggu di hadapan Allah, kita mendapat suatu perasaan dari‑Nya di dalam roh kita. Kita mungkin ingin berdoa untuk gereja, tetapi Allah mungkin tidak memberi kita perasaan ini.

Sebaliknya, Dia mungkin menyinari kita, menunjukkan kepada kita bahwa hubungan kita dengan pasangan atau anak‑anak kita tidak benar dan bahwa kita perlu berdoa serta mengakui mengenai daging kita. Pada saat ini kita tidak boleh cemas, melainkan berdoa menurut perasaan yang Allah berikan kepada kita. Jika Dia tidak menggerakkan kita atau memberi kita suatu perasaan tertentu, kita harus dengan sabar menunggu sampai Dia memberi kita perasaan dan pimpinan yang jelas. Terkadang Allah memprakarsai sesuatu, tetapi kita tidak mengikutinya. Saat seorang saudari sedang menjahit, Allah mungkin memberinya perasaan untuk mendoakan suatu hal, tetapi tanggapannya mungkin adalah menunggu sampai ia selesai menjahit barulah ia berdoa. Pada saat dia akhirnya berdoa, Allah tidak lagi menunggunya dan tidak memberinya perasaan lebih lanjut. Terkadang tampaknya Allah tidak merespons dalam hal doa kita, karena doa kita hanya terhitung bila diprakarsai oleh‑Nya. Karena itu, kita harus belajar dengan sabar menunggu dan memandang kepada Allah. Terkadang tampaknya Allah menyusahkan kita supaya kita dapat mempelajari pelajaran menunggu. Jika kita tidak belajar menunggu melainkan membiarkan pikiran kita melayang dari timur ke barat, kita tidak bisa belajar berdoa.

Prinsip doa yang kelima adalah kita perlu berdoa menurut perasaan yang Allah berikan kepada kita. Kejadian 18 menunjukkan bagaimana Abraham bersyafaat menurut pimpinan Allah dalam persekutuannya dengan Dia. Satu dari ketiga pria yang kepadanya Abraham berikan tumpangan adalah Allah itu sendiri. Abraham, istrinya Sara, dan hambanya bergegas menyiapkan makanan untuk menyambut Allah (ay. 1‑8). Allah berkata kepadanya, "Aku pasti akan kembali kepadamu menurut waktu hayat, dan pada waktu itu Sara, istrimu, akan memiliki seorang putra" (ay. 10). Setelah itu, Allah bangkit dan memandang ke arah Sodom, dan Abraham mengikuti‑Nya, berjalan bersama‑Nya layaknya seorang sahabat, mengantarkan‑Nya pergi dengan enggan (ay. 16). Ketika Abraham menerima wahyu Allah, ia tidak menjadi sedemikian girang sehingga melupakan Allah, bergegas mengucapkan selamat jalan kepada‑Nya, dan membiarkan‑Nya pergi. Sebaliknya, ia enggan berpisah dengan Allah dan karena itu berjalan menyertai‑Nya untuk mengantarkan‑Nya. Pada saat itu Allah berfirman, "Akankah Aku menyembunyikan dari Abraham apa yang hendak Kulakukan?" (ay. 17). Kemudian Allah mewahyukan kepada Abraham niat‑Nya untuk membinasakan Sodom (ay. 20). Namun, Abraham tetap berdiri di hadapan Allah (ay. 22) karena keponakan Abraham, Lot, tinggal di Sodom. Allah ingin menyelamatkan Lot, tetapi Dia membutuhkan seorang juru bicara. Dia perlu menemukan seseorang yang memahami kehendak‑Nya dan sehati dengan‑Nya untuk bersyafaat bagi Lot. Dengan kata lain, jika Abraham tidak menjamah perasaan Allah dan menyertai Allah dalam perjalanan‑Nya menurut perasaan itu, dia tidak akan mengetahui niat‑Nya dan dapat bersyafaat bagi Lot. Dalam doa kita hari ini, kita juga perlu belajar berdoa menurut perasaan yang Allah berikan kepada kita.

Prinsip yang keenam adalah kita perlu bertanya. Catatan dalam ayat 23 hingga 33 menunjukkan bagaimana Abraham bersyafaat bagi Lot. Abraham bersyafaat bagi Lot dengan cara bernegosiasi dengan Allah. Abraham sangat mengenal Allah dan sangat cakap dalam berdoa kepada‑Nya. Pertama, ia menantang Allah menurut prinsip kebenaran‑Nya, dengan berkata, "Apakah Engkau sungguh‑sungguh akan membinasakan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?" (ay. 23). Kemudian ia bertanya untuk lima puluh orang benar, lalu untuk empat puluh lima, empat puluh, tiga puluh, dan dua puluh. Ia terus tawar‑menawar hingga ia mencapai sepuluh orang benar (ay. 24‑32). Akhirnya, Allah memberi tahu Abraham bahwa Dia tidak membinasakan kota itu demi sepuluh orang benar tersebut. Percakapan Abraham dengan Allah melibatkan dua teman intim yang saling berbalas ucapan, seakan‑akan bercakap‑cakap satu sama lain dalam ungkapan rahasia. Di pasal 19 jawaban dari teka‑teki itu disingkapkan untuk menunjukkan bahwa Lot adalah objek syafaat Abraham, dan Allah mendengarkan syafaatnya lalu mengutus kedua malaikat tersebut untuk menyelamatkan Lot.

Prinsip yang ketujuh adalah di dalam doa kita harus membiarkan Allah selesai berbicara. Akhir pasal 18 mencatat, Tuhan pergi setelah Dia selesai berbicara dengan Abraham, dan Abraham kembali ke tempatnya (ay. 33). Bagian percakapan ini berakhir bukan dengan syafaat Abraham melainkan dengan Allah pergi segera setelah Dia selesai berbicara. Barulah kemudian Abraham kembali ke tempatnya. Doa yang baik berakhir bukan dengan perkataan kita melainkan dengan Allah menyelesaikan perkataan‑Nya. Karena doa adalah mencari kehendak Allah, kita perlu membiarkan Allah menyuarakan kehendak‑Nya dan menyelesaikan apa yang hendak Dia katakan. Beberapa orang berdoa tetapi tidak membiarkan Allah selesai berbicara, bergegas pergi tanpa menunggu. Agar dapat memiliki doa yang baik, pertama‑tama kita harus berada di hadapan Allah, menatap‑Nya, dengan diam menantikan‑Nya, berdoa menurut perasaan-Nya, menanyai‑Nya, berunding dengan‑Nya, dan membiarkan‑Nya selesai berbicara. Jika kita mempraktikkan doa dengan cara ini, kita pasti akan menjadi orang‑orang yang bisa berdoa. Doa semacam itu akan membuat kita bermandikan terang hadirat Allah, dan kita pasti akan dipenuhi dengan perasaan dihangatkan, diairi, disegarkan, dipuaskan, disukakan, dan diterangi.