Artikel

Ukuran dari Pengaturan Allah dan Ministri Peperangan Rohani

26 Jul 2026
3 menit baca

Pembacaan Alkitab꞉ 2 Kor. 10꞉12-15; Ef. 2꞉6; 6꞉10-12
 

Rasul Paulus berani dalam pelayanannya, tetapi dia bukan berani tanpa batas. Ini memperlihatkan bahwa ia berada di bawah pembatasan Tuhan. Bermegahnya Paulus adalah menurut ukuran dari pengaturan yang telah ditetapkan baginya oleh Allah yang mengukur, Allah yang mengatur. Ministrinya kepada dunia bukan Yahudi, termasuk Korintus, adalah menurut ukuran Allah (Ef. 3꞉12, 8; Gal. 2꞉8); jadi, kemegahannya adalah di dalam batasan ini.

Kata “aturan” dalam 2 Korintus 10꞉13 secara harfiah berarti “tongkat pengukur,” seperti penggaris tukang kayu. Kata ukuran dalam ayat 13 menunjukkan diatur oleh Allah; Allah telah menetapkan bagian bagi kita sedemikian bagi pekerjaan dan pengalaman kita. Ada Dia yang mengatur dan mengukur—Allah yang mengukur, Allah yang mengatur; karena itu, kita harus tinggal di dalam batasan‑batasan aturan Allah, ukuran Allah. Dari 2 Korintus 10꞉13‑15, kita bisa melihat bahwa meskipun kita mengharapkan pekerjaan Tuhan menyebar, kita harus belajar bagaimana berada di bawah pembatasan Allah.

Paulus harus belajar untuk menerima pembatasan Tuhan. Paulus ingin pergi ke Roma, tetapi ia tidak menyangka bahwa ia pergi dengan terbelenggu (Kis. 26꞉29). Paulus memberi tahu kaum beriman di Roma bahwa ia berharap untuk pergi ke Spanyol dengan melewati tempat mereka (Rm. 15꞉24), tetapi ia tidak pernah pergi ke Spanyol. Paulus rela tunduk kepada pengukuran Allah. Belenggu dan pemenjaraannya adalah pembatasan yang penuh daulat dari Allah.

Berdasarkan prinsip pengukuran Allah, Paulus memberi tahu orang‑orang Korintus bahwa apa pun yang dia lakukan dan katakan tidak melampaui ukurannya; Paulus selalu bertindak dan bersikap di dalam ukurannya (1 Kor. 2꞉1‑5, 12‑13). Para rasul selalu bergerak menurut pengaturan Allah. Apa pun yang Allah ukurkan kepada mereka menjadi yurisdiksi mereka. Dalam pelayanan gereja, kita perlu menyadari bahwa Allah telah mengukurkan hanya sejumlah tertentu bagi kita, dan kita jangan memperpanjang diri kita melampaui ukuran kita; kita perlu mengenal batasan-batasan kita (2 Kor. 10꞉12, 14). Seperti Paulus, kita harus bergerak dan bertindak menurut berapa banyak yang telah Allah ukurkan kepada kita.

Sewaktu kita hidup bersama Kristus dalam kenaikan‑Nya sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan, kita terlibat dalam peperangan rohani bagi Kerajaan Allah (Kid. 4꞉8; 6꞉4, 10; Ef. 2꞉6; 6꞉10‑12). Dalam kenaikan, kita bersama Kristus memandang “dari liang‑liang singa, dari pegunungan tempat macan tutul” (Kid. 4꞉8b). Liang‑liang singa dan pegunungan tempat macan tutul menandakan tempat di angkasa, di mana Satan dan pengikut‑pengikutnya berada. Kemenangan telah diraih, tetapi Satan dan pasukan jahatnya masih ada di angkasa; kita harus menempuh hidup dalam kenaikan, jauh melampaui kuasa‑kuasa jahat (Ef. 3꞉10; 6꞉12). Di sini kita berperang melawan Satan dan kuasa kegelapannya melalui dikuatkan di dalam Tuhan dan dalam kuasa kekuatan‑Nya, dan dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 12‑20). Ini adalah realitas hidup dalam kenaikan Kristus. Peperangan rohani diperlukan karena kehendak Satan ditetapkan berlawanan dengan kehendak Allah. Peperangan kita adalah untuk menundukkan kehendak satani dan mengalahkan musuh Allah (Mat. 6꞉10).

Untuk terlibat dalam peperangan rohani, kita harus mempertahankan kedudukan kenaikan (Kid. 4꞉8; Ef. 2꞉6). Peperangan rohani yang disebutkan dalam Efesus 6꞉10‑12 adalah berdasarkan kedudukan kenaikan dalam pasal 2꞉6. Kedudukan kenaikan menyebabkan kita menang dalam peperangan karena hanya dalam kedudukan kenaikanlah kita bisa memiliki otoritas surgawi dan berdoa dengan otoritas untuk menanggulangi musuh Allah. Peperangan rohani adalah berdasarkan kemenangan Kristus. Melalui kematian, Tuhan Yesus menghancurkan Iblis, meniadakannya (Mat. 27꞉51‑54; Ibr. 2꞉14). Kita perlu terlibat dalam peperangan rohani bagi pembangunan ilahi, gereja sebagai Tubuh Kristus.