Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu ‑‑ menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi berabad‑abad lamanya...(Roma 16꞉25)
PERAMPUNGAN INJIL
Surat Roma mencapai puncaknya bukan pada doktrin‑doktrin yang bersifat teoritis, melainkan pada perampungan akhir Injil yang termanifestasi melalui kehidupan gereja yang riil dan praktis. Setelah menguraikan proses panjang mulai dari penghukuman, pembenaran, pengudusan, hingga pengubahan, Rasul Paulus menegaskan bahwa sasaran tertinggi dari seluruh karya Allah adalah perwujudan satu Tubuh yang hidup. Melalui kata penutup yang sangat panjang dalam pasal lima belas dan enam belas, Paulus menyingkapkan "mustika yang tersembunyi" di balik deretan nama dan salam yang sering kali terabaikan oleh para pembaca. Kehidupan gereja ini bukanlah sekadar organisasi keagamaan, melainkan sebuah realitas organik di mana orang‑orang berdosa yang tadinya keji dalam pasal satu telah diubah menjadi gereja yang kudus dan mulia di pasal enam belas. Perampungan Injil ini menuntut kita untuk tidak hanya berhenti pada kesalehan individu, melainkan masuk ke dalam persekutuan korporat yang menjadi senjata ampuh Allah untuk melaksanakan ekonomi‑Nya di muka bumi.
Realitas kehidupan gereja ini dihidupkan melalui pelayanan keimaman dalam pemberitaan Injil, di mana Kristus dilayankan sebagai "makanan" yang mengenyangkan dan menguduskan orang beriman untuk menjadi persembahan yang harum bagi Allah. Rasul Paulus memberikan teladan seorang imam yang menyajikan kelimpahan Kristus kepada bangsa-bangsa lain, sehingga esensi ilahi tersebut masuk dan mengubah mereka secara metabolis agar diperkenan oleh‑Nya,. Kehidupan gereja yang sehat juga dicirikan oleh persekutuan dalam kasih yang melintasi batas budaya, terlihat dari bagaimana kaum beriman kafir dengan sukarela menyuplai kebutuhan material saudara‑saudara Yahudi di Yudea. Ini membuktikan bahwa kerohanian yang sejati bersifat sangat riil karena membawa solusi praktis bagi kekurangan sesama anggota Tubuh. Lima aspek mendasar dari kehidupan gereja yang normal mencakup kerelaan untuk melayani sebagai diaken, kesiapan mempertaruhkan nyawa demi kepentingan Tubuh, membuka rumah sebagai tempat berhimpun, memandang gereja sebagai milik mutlak Kristus, serta kemurahan hati dalam memberikan tumpangan kepada kaum saleh. Melalui keterlibatan aktif dalam aspek‑aspek praktis ini, kekayaan berkat Kristus yang melimpah dapat disalurkan dan dinikmati secara kolektif oleh warga gereja.
Sebagai hasil akhir dari beroperasinya kehidupan gereja, Allah sumber damai sejahtera akan segera menghancurkan Iblis di bawah kaki kaum beriman yang bersatu dalam Tubuh. Penghancuran musuh ini tidak terjadi secara individu, melainkan secara korporat bagi mereka yang "ber‑gereja", karena kehidupan Tubuh adalah instrumen utama untuk menaklukkan si pengacau. Di dalam lingkungan gereja pulalah kasih karunia Tuhan Yesus disalurkan secara berkelimpahan untuk menguatkan dan meneguhkan setiap anggota berdasarkan penyingkapan rahasia yang telah tersembunyi berabad‑abad lamanya. Rahasia agung ini mencakup Kristus sebagai rahasia Allah yang berhuni di dalam batin manusia, serta gereja sebagai rahasia Kristus yang mengekspresikan kepenuhan‑Nya di bumi. Pada akhirnya, surat Roma merampungkan narasinya dengan memuliakan Allah yang abadi dan penuh hikmat, yang telah membimbing segala bangsa kepada ketaatan iman. Melalui perpaduan antara Injil yang murni, Kristus yang hidup, dan kehidupan gereja yang fungsional, kemuliaan Allah dinyatakan sampai selama-lamanya. Injil Allah yang kaya ini bukan hanya menyelamatkan manusia dari hukuman, melainkan membangun mereka menjadi satu kesatuan yang sanggup menggenapi maksud Allah yang kekal di alam semesta.
KATA PENUTUP
Surat Roma menyajikan wahyu Allah yang berkembang secara progresif melalui dua belas keadaan berbeda, mulai dari penciptaan hingga perwujudan‑Nya di dalam gereja lokal. Allah yang mulanya bersifat objektif dalam penciptaan, penebusan, dan pembenaran, kini menjadi sangat subjektif dengan berdiam di dalam roh kaum saleh melalui proses pengudusan yang transformatif. Puncak dari seluruh ekonomi Allah bukanlah sekadar keselamatan individu, melainkan terbentuknya gereja sebagai perampungan akhir dari pekerjaan pembangunan‑Nya yang panjang yang mencakup kelahiran ulang hingga pemuliaan. Tanpa gereja, segala proses ilahi tersebut tidak akan mencapai sasaran tertingginya, karena gereja adalah titik puncak di mana Allah merasa puas dengan hasil karya-Nya. Oleh karena itu, Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar keselamatan pribadi, karena secara spesifik mencakup kehidupan gereja lokal yang riil sebagai ekspresi nyata Tubuh Kristus. Di dalam gereja lokal, Allah mengekspresikan diri‑Nya secara korporat, yang merupakan mikrokosmos dari Yerusalem Baru sebagai totalitas pembangunan Allah di masa depan.
Dari sudut pandang praktis, perjalanan seorang beriman digambarkan melalui berbagai "pos" rohani, yang dimulai dari status orang berdosa yang celaka hingga menjadi anggota Tubuh yang berguna bagi pembangunan Allah. Banyak orang Kristen sering kali terjebak dan berhenti pada pos pembenaran atau pengudusan, namun mereka sering kali gagal mencapai pos terakhir yang merupakan sasaran utama, yaitu realitas gereja lokal. Pengetahuan mengenai "kehidupan Tubuh" dalam pasal dua belas akan tetap menjadi teori yang kosong dan tidak berdaya jika tidak diwujudkan secara nyata dalam praktik gereja lokal seperti yang ditunjukkan dalam daftar nama di pasal enam belas. Rasul Paulus menutup suratnya dengan melodi pujian yang sangat indah karena ia telah melihat perampungan pekerjaan Allah di atas bumi melalui eksistensi gereja‑gereja lokal. Di dalam gereja, setiap anggota memiliki fungsi pelayanan yang riil dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan, seperti halnya Febe yang melayani gereja lokal di Kengkrea. Dengan demikian, gereja lokal adalah tempat di mana Tubuh Kristus tidak lagi menjadi istilah teologis yang abstrak, melainkan sebuah kenyataan hidup yang dinamis.
Kesatuan di dalam gereja lokal hanya dapat terpelihara jika kaum saleh bersedia mengesampingkan segala konsepsi ajaran, teori, dan latar belakang filosofis mereka demi berpegang teguh hanya kepada pribadi Kristus. Sejarah membuktikan bahwa ajaran sering kali mengakibatkan perpecahan yang membagi kekristenan, sedangkan hayat ilahi adalah satusatunya unsur yang mampu mempertahankan kesatuan Tubuh yang sejati. Kita dipanggil untuk menerima satu sama lain sesuai dengan standar Allah, yakni menerima siapa pun yang telah diterima‑Nya tanpa menghakimi perbedaan pendapat mengenai hal‑hal lahiriah. Kristus harus menjadi satu‑satunya "konsepsi" dan pusat persekutuan kita, di mana Ia merangkum segala perbedaan latar belakang menjadi satu kerukunan yang manis di bawah pemerintahan‑Nya yang penuh kasih. Namun, di tengah sukacita hidup gereja, terdapat peringatan keras untuk tetap waspada terhadap oknum yang menimbulkan perpecahan yang bertentangan dengan ajaran rasul. Kita wajib menghindari orang‑orang yang mencoba menipu dengan kata‑kata manis demi melayani perut atau kepentingan mereka sendiri. Menjunjung tinggi kemurnian ajaran rasul dan berfokus pada Kristus sebagai hayat adalah syarat mutlak bagi eksistensi gereja lokal yang memuaskan hati Allah.