Artikel

Pengubahan Dalam Menerima Kaum Beriman

31 May 2026
6 menit baca

Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. (Roma 14꞉1)


Surat Roma menyajikan suatu panorama rencana keselamatan Allah yang sangat agung, yang berpindah dari dasar‑dasar doktrinal menuju pelaksanaan praktis kehidupan gereja. Dalam sebelas pasal pertamanya, Rasul Paulus telah menguraikan dengan sempurna masalah penciptaan Allah, kejatuhan manusia, penebusan Kristus, pembenaran, pendamaian, penyatuan, pengudusan, pemuliaan, hingga rahasia pemilihan Allah yang bersumber dari kasih‑Nya. Namun, seluruh butir yang indah ini bukanlah perampungan akhir dari pekerjaan Allah; perampungan akhir‑Nya adalah kehidupan gereja. Musuh sangat licik dalam upaya menjauhkan kaum beriman dari istilah "gereja," membuat banyak orang Kristen hanya terfokus pada kesalehan individu atau menganggap gereja adalah urusan masa depan. Padahal, tanpa gereja yang terbangun dan siap, Tuhan Yesus tidak memiliki jalan untuk kembali ke bumi. Ada dua tanda besar bagi kedatangan Tuhan kembali, yaitu pemulihan negara Israel dan pemulihan kehidupan gereja. Pekerjaan Tuhan atas Israel harus berjalan seiring dengan pekerjaan‑Nya di dalam gereja, sehingga perhatian utama kita harus dicurahkan sepenuhnya untuk membangun kehidupan gereja yang normal sebagai persiapan bagi kembalinya Sang Raja.

Kehidupan gereja yang normal dalam Roma 12 menuntut adanya pengubahan atau transformasi yang menyeluruh atas seluruh bagian diri manusia. Langkah praktis pertama dimulai dengan mempersembahkan tubuh jasmani secara riil sebagai persembahan yang hidup demi kepentingan Tubuh Kristus. Setelah tubuh dipersembahkan, jiwa manusia harus mengalami pengubahan metabolis yang tuntas melalui pembaruan pikiran (12꞉2), karena segala sesuatu yang bersifat alamiah, duniawi, atau modern sama sekali tidak cocok untuk kehidupan Tubuh. Kita memerlukan revolusi batiniah dalam pikiran, emosi, dan tekad kita melalui unsur hayat ilahi agar batin kita selaras dengan kehidupan gereja. Selain itu, roh kita pun harus senantiasa menyala‑nyala dan membara untuk Tuhan. Melalui pertumbuhan hayat yang ditandai dengan persembahan tubuh, pengubahan jiwa, dan roh yang membara inilah, berbagai karunia dan fungsi dari kasih karunia mulai bermunculan secara organik. Setiap anggota dalam kehidupan gereja wajib menjalankan fungsinya dan tidak boleh menjadi "anggota mati" dalam suatu organisasi.

Aspek krusial lainnya dalam kehidupan gereja yang telah diubah adalah ketepatan dalam menerima kaum beriman tanpa menimbulkan perpecahan. Jika kita tidak berhati‑hati dan tidak memiliki daya pembedaan yang tajam dalam hal ini, kita justru akan merusak dan mencabik‑cabik Tubuh Kristus melalui perbedaan pendapat. Tabiat alamiah manusia sering kali membuat kita sulit untuk hidup bersama orang lain, bahkan sering kali kita mengalami kontradiksi dengan diri sendiri; oleh karena itu, pengubahan oleh pembaruan pikiran adalah prasyarat mutlak untuk dapat bersatu dan bersekutu dengan kaum beriman lainnya. Dasar utama kita dalam menerima orang lain bukanlah kesamaan konsepsi doktrinal mengenai baptisan, penudungan kepala, atau hari‑hari suci, melainkan semata‑mata berdasarkan penerimaan Allah terhadap orang tersebut. Sejarah kekristenan yang menyedihkan sering kali dipenuhi oleh perpecahan karena masingmasing pihak mempertahankan pemahaman ajaran yang khusus dan mengabaikan keesaan. Kita harus menyadari bahwa menggunakan doktrin sebagai sebilah pedang untuk mencincang Tubuh yang diwahyukan dalam Roma 12 adalah suatu kesalahan besar. Roma 14 memberikan peringatan agar kita menerima bahkan mereka yang lemah imannya dan tidak menghakimi mereka berdasarkan perkara=perkara yang diperdebatkan, karena asalkan Allah telah menerima mereka, kita tidak memiliki pilihan lain selain menerima mereka sebagai milik Tuhan.

Penerimaan terhadap kaum saleh juga harus dilakukan dalam terang takhta penghakiman Allah yang akan datang. Setiap orang beriman, meskipun sudah beroleh selamat secara kekal, harus tetap berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan dan pekerjaannya setelah ia selamat. Penghakiman ini tidak menentukan keselamatan jiwa, melainkan menentukan pemberian pahala atau mahkota bagi mereka yang pekerjaannya tahan uji, atau kerugian bagi mereka yang pekerjaannya "terbakar" seperti kayu, rumput kering, dan jerami. Kesadaran akan adanya penghakiman ini seharusnya membuat kita berhenti mengritik atau mengecam saudara seiman lainnya, karena setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Alkitab menunjukkan jembatan antara Calvinisme (keselamatan kekal) dan Armenianisme (kemungkinan binasa) melalui konsep takhta penghakiman ini꞉ kita selamat selamanya, namun kita tetap dapat menderita kerugian jika tidak hidup dan bekerja dengan baik. Oleh karena itu, daripada menghakimi orang lain atas perbedaan praktek lahiriah mereka, kita wajib menghakimi diri sendiri dan memeriksa apakah kehidupan kita berkenan di hadapan Tuhan. Sikap yang benar adalah membiarkan Tuhan mengurus hamba‑hambaNya sendiri dan memusatkan perhatian pada persiapan diri kita untuk menghadapi hari perhitungan tersebut.

Selanjutnya, kehidupan gereja merupakan wujud nyata dari Kerajaan Allah pada zaman ini, yang menuntut latihan dan disiplin hayat. Gereja bukan hanya sebuah keluarga yang penuh dengan kasih karunia dan suplai hayat, tetapi juga sebuah kerajaan yang melibatkan pemerintahan dan kekuasaan Kristus sebagai Kepala. Di dalam Kerajaan ini, kita dilatih melalui berbagai keadaan dan lingkungan—seperti pasangan, anak, dan saudara‑saudari—agar kita tidak lagi liar, melainkan dipersiapkan untuk menjadi raja di masa yang akan datang. Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus. Kita harus ketat terhadap diri sendiri (kebenaran), rukun dengan orang lain (damai sejahtera), dan senantiasa memuji Allah (sukacita) sebagai ekspresi Kristus dalam batin kita. Melayani Kristus dengan cara ini berarti kita tidak mementingkan konsepsi doktrinal pribadi, melainkan mengutamakan pembangunan Tubuh dan pemeliharaan kesatuan. Kita tidak boleh merusak pekerjaan kasih karunia Allah pada diri orang lain hanya karena mempertahankan praktek agamawi kita; sebaliknya, kita harus bersedia membuang segala sesuatu yang dapat menjadi batu sandungan bagi mereka yang imannya lebih lemah. Fokus utama dalam kehidupan kerajaan adalah mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun di dalam hayat.

Puncak dari seluruh pengubahan dalam menerima kaum beriman adalah melakukannya menurut Kristus, Sang Almuhit yang merangkul segala sesuatu. Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang lain dan tidak mencari kesenangan sendiri, sama seperti Kristus yang mengabaikan kesenangan‑Nya demi memuliakan Bapa. Kristus telah menjadi pelayan baik bagi orang Yahudi (untuk mengokohkan janji) maupun bagi orang kafir (agar mereka memuliakan rahmat Allah), sehingga Ia menjadi pusat yang menyatukan kedua bangsa tersebut menjadi satu Tubuh. Sebagai "Akar Isai" yang menyuplai orang Yahudi dan "Pemerintah Bangsa‑bangsa" yang menaungi orang kafir, Kristus merangkul setiap orang dari segala penjuru bumi tanpa membedakan jabatan atau latar belakang. Jika kita menerima satu sama lain menurut Kristus, kita akan memiliki satu hati dan satu suara untuk memuliakan Allah. Segala ajaran, konsepsi, dan praktek agamawi yang bersifat memisahkan harus ditinggalkan demi memelihara kesatuan yang berdasarkan hayat Kristus. Ketika kita mempraktikkan kehidupan gereja yang demikian, Allah sebagai sumber pengharapan akan memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman. Dengan kekuatan Roh Kudus, kehidupan gereja kita akan berlimpah‑limpah dengan pengharapan dan menjadi kesaksian yang indah bagi kemuliaan Allah.


Pembacaan Alkitab꞉ Roma 12‑14