Artikel

Pengubahan Dalam Pelaksanaan Kehidupan Tubuh

24 May 2026
6 menit baca

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan ebudimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah꞉ Apa yang baik, yang berkenan kepada‑Nya dan sempurna. (Roma 12꞉2)
 

Surat Roma pasal dua belas hingga enam belas menyajikan bagian yang paling riil dan praktis dari seluruh wahyu Rasul Paulus, yaitu mengenai pengubahan atau transformasi untuk pelaksanaan kehidupan Tubuh. Penting untuk disadari bahwa pengudusan, penyerupaan, dan pemuliaan yang dibahas dalam pasal‑pasal sebelumnya bukanlah tujuan akhir, melainkan proses hayat yang dipersiapkan demi satu sasaran tertinggi, yaitu kehidupan gereja secara korporat. Banyak orang Kristen hanya berhenti pada Roma pasal delapan dan mengejar kerohanian individu, namun mereka kehilangan kata‑kata terakhir Paulus yang menegaskan bahwa hayat ilahi adalah untuk Tubuh, bukan hanya untuk diri sendiri. Pelaksanaan kehidupan ini menuntut pengubahan yang menyeluruh karena unsurunsur alamiah manusia sama sekali tidak berguna dan tidak mampu mewujudkan kehidupan Tubuh yang wajar. Kita perlu melampaui konsepsi alamiah yang menganggap bagian ini sekadar nasihat moral atau budi pekerti, dan mulai melihat bahwa sembilan puluh persen dari kehidupan kita seharusnya adalah "bergereja" atau mempraktikkan kehidupan Tubuh di bumi hari ini sebagai pelaksanaan Kerajaan Allah. Tanpa kehidupan sehari‑hari yang telah diubah secara metabolis, mustahil bagi seseorang untuk memiliki kehidupan gereja yang sejati dan fungsional.

Pengubahan (transformasi) didefinisikan sebagai perubahan metabolis batiniah dalam unsur organik manusia, di mana hayat Kristus yang penuh gizi meresap ke dalam diri kita dan menghasilkan "senyawa kimia rohani" yang mengubah susunan sifat serta corak lahir kita. Proses ini berbeda dengan perbaikan lahiriah atau bedak kosmetik; ini adalah perubahan dari dalam yang dipicu oleh bertambahnya unsur ilahi ke dalam batin kita melalui Roh Tuhan. Langkah pertama yang sangat praktis dalam pengubahan ini adalah mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Paulus menekankan persembahan tubuh karena tidak ada yang lebih riil daripada kehadiran fisik; jika tubuh kita tidak hadir dalam sidang‑sidang gereja, maka klaim bahwa roh kita hadir adalah sebuah penipuan. Kita harus menanggalkan keserupaan dengan zaman ini (modernisasi), yang merupakan sistem Iblis yang menggantikan kehidupan gereja dengan mode dan gaya duniawi yang berubah‑ubah. Hanya melalui pembaruan pikiran, di mana Kristus memperluas diri‑Nya dari roh ke jiwa kita, kita dapat membedakan kehendak Allah yang unik, yaitu menempuh kehidupan gereja. Setiap keputusan pribadi mengenai pekerjaan, rumah, atau pernikahan harus diletakkan di bawah payung kepentingan kehidupan Tubuh agar kita tetap berada dalam jalur kehendak‑Nya yang sempurna.

Kehidupan gereja yang sehat sangat bergantung pada penggunaan karunia‑karunia yang berasal dari kasih karunia dalam hayat, bukan sekadar karunia ajaib yang bersifat lahiriah. Kasih karunia adalah Allah sendiri yang kita nikmati, hirup, dan cerna, sehingga menghasilkan kemampuan atau kecakapan rohani yang sebanding dengan kadar pertumbuhan hayat kita. Karunia dalam Roma 12, seperti bertutur‑sabda, melayani, mengajar, menasihati, membagi‑bagikan, memimpin, dan menunjukkan belas kasihan, semuanya membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan matang. Paulus secara sengaja tidak menyebutkan karunia ajaib seperti bahasa lidah atau mujizat dalam Roma 12 karena ia tahu dari sejarah gereja Korintus bahwa karunia ajaib sering kali menyebabkan perpecahan, sedangkan karunia dari pertumbuhan hayatlah yang membangun Tubuh. Setiap anggota harus menghargai fungsi yang berbeda‑beda dan tidak boleh meninggikan diri sendiri, melainkan harus memandang diri menurut ukuran iman, yaitu seberapa banyak unsur Allah telah ditransfusikan ke dalam dirinya. Kita adalah anggota yang seorang terhadap yang lain, yang berarti kita wajib saling berkoordinasi dan bekerja sama agar Tubuh dapat berfungsi secara organik mengekspresikan Kristus.

Untuk menempuh kehidupan yang normal sebagai dasar kehidupan gereja, kita memerlukan emosi yang telah diubah agar mampu bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis. Kita tidak boleh menjadi seperti batu yang tanpa perasaan, melainkan harus menjadi batu‑batu hidup yang penuh ekspresi kasih yang tidak pura‑pura dan saling menghormati. Sikap kita terhadap Allah harus ditandai dengan kerajinan dan roh yang menyala‑nyala, karena kemalasan adalah penghambat besar bagi kehidupan korporat. Pelayanan kita kepada Tuhan harus dilakukan bagaikan seorang budak yang telah dibeli, yang tidak lagi memiliki kebebasan sendiri melainkan mutlak taat pada Tuan‑Nya. Terhadap diri sendiri, kita harus senantiasa bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesengsaraan, dan bertekun dalam doa agar tetap berada dalam hadirat Allah. Bahkan terhadap penganiaya dan seteru, kehidupan yang telah diubah ini mampu memberikan berkat dan kasih yang nyata, seperti memberi makan dan minum kepada musuh, guna mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Semua aspek tingkah laku ini merupakan persiapan yang diperlukan agar gereja lokal dapat tampil sebagai kesaksian yang indah di tengah dunia yang gelap.

Kepatuhan kepada pemerintah dan penguasa yang ditetapkan Allah juga merupakan bukti nyata dari pertumbuhan hayat, karena karakter alamiah manusia cenderung memberontak. Pengubahan dalam hayat memberikan kita sifat kasih Allah yang secara spontan memenuhi segala tuntutan hukum Taurat tanpa perlu usaha moral yang dipaksakan. Kasih adalah ekspresi hayat batiniah yang membuat kita tidak lagi berhutang apa pun kepada sesama selain kasih. Kita menyadari bahwa waktu saat ini adalah "malam hari" yang sudah larut, sehingga kita harus bangun dari tidur rohani dan berjaga‑jaga menantikan kedatangan Tuhan. Keselamatan akhir, yaitu penebusan tubuh kita, sudah semakin dekat daripada saat pertama kali kita percaya. Oleh karena itu, kita harus menanggalkan perbuatan‑perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang, yang tidak lain adalah Kristus itu sendiri. Kehidupan yang sopan dan murni adalah mutlak diperlukan bagi setiap anak siang agar tidak terjerumus ke dalam pesta pora, perselisihan, atau hawa nafsu yang mematikan pertumbuhan hayat.

Terakhir, peperangan rohani dalam kehidupan sehari‑hari terutama ditujukan untuk melawan hawa nafsu daging dengan cara mengenakan Tuhan Yesus Kristus. Mengenakan Kristus berarti hidup bersandar pada‑Nya dan mengekspresikan Dia secara riil, sehingga Ia menjadi senjata kita untuk menumpas keinginan daging. Kita harus tegas untuk tidak "menyuplai" atau menuruti daging, termasuk menjauhkan diri dari pengaruh media seperti televisi atau bioskop yang sering diperalat musuh untuk memuaskan hawa nafsu. Daging harus dibiarkan mati kelaparan dengan cara tidak memberinya kesempatan sedikit pun untuk bangkit. Kaum muda khususnya dinasihatkan untuk menghafalkan firman Tuhan mengenai pengubahan ini agar mereka memiliki dasar yang kuat dalam menempuh kehidupan yang normal. Seluruh pasal Roma 12 dan 13 ini harus dilihat sebagai satu kesatuan yang membicarakan pelaksanaan kehidupan Tubuh yang wajar melalui persembahan tubuh, pembaruan pikiran, dan roh yang membara. Puji Tuhan, melalui pengubahan yang metabolis ini, kita tidak lagi hidup bagi diri sendiri, melainkan dibangun bersama menjadi satu Tubuh yang hidup dan fungsional bagi kemuliaan Allah.


Pembacaan Alkitab꞉ Roma 12‑13