Pembacaan Alkitab꞉ Yoh. 4꞉24; 2 Ptr. 1꞉1, 4-11; 1 Yoh. 1꞉5; 4꞉8, 16; Luk. 18꞉1-18
Hayat ilahi bisa dianggap sebagai atribut Allah yang pertama dan mendasar. Hayat Allah adalah hayat yang unik. Efesus 4꞉18 adalah ayat yang unik yang membicarakan hayat Allah꞉ “Dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup yang berasal dari Allah (terasing dari hayat Allah, lit.), karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka.” (TL). Di alam semesta, hanya hayat Allah yang terhitung sebagai hayat (1 Yoh. 5꞉12). Dalam pandangan Allah, hanya hayat-Nya adalah hayat; karena itu, ketika hayat Allah disebutkan dalam Perjanjian Baru, hayat ini diperlakukan seolah‑olah dia adalah hayat yang unik. Hayat Allah itu bukan ciptaan, tanpa awal atau akhir, ada dengan sendirinya, dan senantiasa ada, tak berubah.
Sebagai anak‑anak Allah, kita adalah manusia‑manusia‑Allah, dilahirkan dari Allah, memiliki hayat dan sifat Allah, dan termasuk spesies Allah. Pada saat kelahiran kembali kita, sifat yang lain telah ditambahkan ke dalam kita; ini adalah sifat Allah, sifat ilahi. Seorang yang berbagian akan sifat ilahi adalah seorang yang menikmati sifat ilahi dan berpartisipasi dalam sifat ilahi. Jika kita menikmati Allah dan berbagian akan kekayaan diri‑Nya, kita akan disusun dengan sifat ilahi, menjadi serupa dengan Allah dalam hayat dan sifat tetapi bukan dalam ke‑Allahan dan mengekspresikan Dia dalam segala adanya kita dan yang kita lakukan.
Kita juga perlu melihat bahwa Allah Tritunggal adalah struktur dari Alkitab. Tuhan Yesus menyampaikan di dalam beberapa ayat mengenai Allah haruslah Tritunggal, supaya Ia dapat masuk ke dalam kita sebagai hayat. Contohnya, Yohanes 14꞉26 berkata, “Tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama‑Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 15꞉26 juga turut menyatakan, “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Melalui ayat‑ayat di atas, kita tahu bahwa Allah Tritunggal ingin masuk ke dalam kita sebagai hayat melalui kehadiran Roh Kudus, Roh Kebenaran (Realitas).
Namun di sisi lain, kita juga perlu mengetahui bahwa Allah adalah Allah yang menyembunyikan diri‑Nya—Allah yang tersembunyi. Meskipun Allah kita ada di mana-mana, maha kuasa, dan penuh pengampunan, Dia juga adalah Allah yang bersembunyi, seperti yang ditunjukkan oleh Kitab Ester (Est. 4꞉14). Allah menciptakan alam semesta dan kemudian menyembunyikan diri‑Nya di dalamnya, sampai kita tidak tahu di mana bisa menemukan Dia (Ayb. 23꞉3). Kita perlu menyadari bahwa Allah yang Maha Kuasa yang kita layani masih menyembunyikan diri‑Nya, terutama ketika Dia membantu kita (Yoh. 14꞉26). Allah yang menyembunyikan diri‑Nya beroperasi di dalam kita dengan diam namun penuh kuasa.
Perumpamaan dalam Lukas 18꞉1‑8 menyiratkan bahwa kita perlu mengenal Allah sebagai Allah yang tersembunyi. Janda dalam ayat 3 menandakan kaum beriman; di satu sisi, kaum beriman dalam Kristus adalah janda di zaman ini karena Suami mereka, Kristus, kelihatannya tidak bersama mereka. Janda dalam perumpamaan itu terus datang kepada hakim yang tidak jujur itu dan meminta hakim itu untuk membelanya terhadap lawannya; kita harus berdoa dengan tekun, sungguh-sungguh, untuk pembelaan ini dan jangan putus asa. Lukas 18꞉8b berkata, “Jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan “iman” berarti “iman itu”; ini mengacu kepada iman yang gigih, sungguh-sungguh, bagi doa kita yang tekun seperti doa janda itu. Iman yang melaluinya kita diselamatkan adalah tahap awal dari iman; iman yang membawa kita ke dalam kesatuan hayat dengan Kristus adalah iman yang menghubungkan—iman yang masuk ke dalam kita melalui kita mengontak Allah Tritunggal senantiasa sehingga kita bisa hidup oleh Putra Allah.