Artikel

Berbaur dengan Allah Melalui Berdoa

27 Sep 2026
6 menit baca

Yohanes 4꞉24

Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah‑Nya dalam roh dan kebenaran.

Karena Allah adalah Roh, kita dapat mengontak Dia saat kita berdoa dari roh kita. Kita dapat mengilustrasikan hal ini dengan listrik. Tidak seorang pun dari kita pernah melihat listrik, tetapi begitu kita menyalakan saklar, arusnya mengalir, dan lampu pun menyala. Menyalanya lampu adalah ekspresi dari listrik. Demikian pula, tidak ada orang yang pernah melihat udara, tetapi saat kita bernapas, kita menerima udara ke dalam paru‑paru kita. Ini membuktikan bahwa udara itu ada. Hari ini Allah ada di dalam Kristus, dan Kristus adalah Roh itu. Roh itu hadir di mana‑mana dan menembus ke mana‑mana. Dengan berdoa, kita dapat mengontak dan bersekutu dengan Roh Allah yang tidak kelihatan, dengan demikian menerima Allah sendiri.

Andrew Murray pernah berkata bahwa doa yang sejati adalah Kristus yang tinggal di dalam kita berdoa kepada Kristus yang duduk di atas takhta di surga. Ini berarti bahwa doa yang sejati adalah Roh Kudus yang berdoa di dalam kita. Yaitu, Roh Kudus mengenakan kita dan memimpin kita untuk berdoa. Beberapa orang mungkin bertanya bagaimana Roh Kudus memimpin kita untuk berdoa. Roma 8꞉26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana harus berdoa sebagaimana mestinya, tetapi Roh itu sendiri melepaskan syafaat bagi kita dengan keluhan‑keluhan yang tidak terucapkan.” Ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Roh Kudus di dalam kita melepaskan syafaat bagi kita dengan keluhan‑keluhan, dengan demikian memimpin kita untuk berdoa.

Ketika lingkungan kita nyaman dan tenang, kita mungkin tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada Tuhan. Namun, ketika kita mengalami kesusahan, penyakit, bencana, kecemasan, atau penderitaan, kita tanpa henti mengeluh dan berdoa. Ketika kita mengeluh dengan cara demikian, kita secara bersamaan mengembuskan kesedihan kita dan menghirup damai sejahtera dan hayat Allah. Kita dapat membandingkan hal ini dengan pernapasan fisik, dimana kita menghembuskan karbondioksida dan menghirup oksigen. Hembusan demi hembusan napas kita disegarkan dan ditopang. Namun demikian, kita tidak dapat bergantung pada bencana atau kesukaran setiap hari untuk membuat kita berdoa. Baik dalam masa‑masa baik maupun dalam masa‑masa sulit, kita harus belajar membiarkan Roh Kudus memimpin kita di dalam diri kita untuk memiliki doa yang sejati. Bahkan ketika bencana yang sesungguhnya datang, kita harus belajar untuk tidak mengeluh tetapi berpaling kepada Allah, mengontak Dia, dan menyerap Dia melalui doa. Allah menciptakan manusia dengan berbagai bagian tubuh, dan setiap organ memiliki fungsi yang berbeda. Dalam apa pun yang kita lakukan, kita harus menggunakan organ yang tepat. Jika kita ingin mengontak Allah dan berdoa kepada‑Nya, kita harus menggunakan roh kita. Jika kita hanya menggunakan pikiran kita untuk memikirkan Dia, kita menggunakan organ yang salah.


RAHASIA DAN PRAKTIK BERDOA

Rahasia berdoa adalah melakukannya sesuai dengan perasaan di lubuk roh kita. Jangan berdoa dengan cara menghafal, berbicara dari ingatan, atau hanya berbicara dengan pikiran. Ketika seorang saudari berdoa, ia mungkin berdoa untuk daftar panjang orang dan perkara seolah‑olah ia sedang menghafalkan karangan panjang kata demi kata. Ia mungkin berdoa untuk kaum saleh yang menganggur atau dalam kesakitan, lalu berdoa untuk putranya yang sedang belajar di Amerika Serikat, dan kemudian berdoa untuk suaminya yang sedang berbisnis di Hong Kong. Ia mungkin berdoa dari belahan bumi timur hingga belahan bumi barat. Doa seperti itu tidak sesuai dengan perasaan di dalam roh, dan tidak melibatkan pernapasan rohani apa pun; dengan demikian, doa itu tidak memberikan faedah rohani apa pun. Setelah berdoa, ia mungkin sepenuhnya berada di dalam dirinya sendiri dan bahkan mungkin mengeluh bahwa doanya diabaikan oleh Tuhan. Mayoritas orang Kristen hari ini tidak berdoa secara memadai, dan mereka yang berdoa biasanya melakukannya sesuai dengan kehendak mereka sendiri, meminta ini dan itu kepada Tuhan. Jika orang‑orang sering mengucapkan doa jenis ini, meskipun itu tidak sesuai dengan roh, mereka mungkin kebetulan menyentuh Tuhan dan memiliki persekutuan yang karib dengan‑Nya. Namun, ini murni kebetulan; ini seperti pepatah Tiongkok, “Kucing buta tersandung tikus mati.”

Selain prinsip berdoa dalam roh dan sesuai dengan roh, prinsip lainnya adalah bahwa kita harus berdoa secara terus-menerus, setiap waktu, bahkan tidak henti-hentinya (Ef. 6꞉18; 1 Tes. 5꞉17). Sayangnya, kebanyakan orang beriman hari ini tidak berdoa dalam roh, tidak pula mereka berdoa tanpa henti. Bagi mereka, menyentuh Allah dalam doa hanyalah suatu kebetulan, persis seperti saat berjalan di jalan, mereka mungkin berpapasan dengan seorang teman yang sudah lama tidak mereka jumpai. Doa dan persekutuan kita dengan Tuhan harus ada di setiap waktu dan bersifat karib. Ini dapat dibandingkan dengan mengenal teman dekat dengan sangat baik. Karena kita tahu di mana ia tinggal dan kapan ia ada di rumah, kita tahu di mana dan kapan harus menemukannya dan dengan demikian tidak pernah melewatkannya. Ini harus menjadi kondisi yang tepat dan normal dari persekutuan kita dengan Tuhan.

Ketika kita pergi ke hadapan Allah untuk berdoa, bahkan jika kita sedang melepaskan syafaat bagi seseorang, kita masih perlu berdoa sesuai dengan perasaan di lubuk roh kita. Kita tidak boleh berdoa hanya sesuai dengan ingatan kita atau dengan cara menghafal. Jika Roh Kudus menerangi kita dan menunjukkan kepada kita bahwa kita sedang berdoa dan hidup menurut diri kita sendiri dan bahwa kita penuh dengan pendapat, kita perlu berdoa untuk kondisi kita dan meminta Tuhan menangani perkara‑perkara ini. Dengan cara ini, semakin kita mempraktikkan doa, semakin solid diri kita. Kita dapat membandingkan hal ini dengan sejenis tinju yang di dalamnya setiap pukulan adalah solid dan mengenai sasaran. Jika kita meleset dari sasaran saat bertinju, pukulan kita akan lemah, tetapi jika semua pukulan kita mengenai sasaran, pukulan tersebut akan berisi (berbobot). Demikian pula, semakin kita berdoa dalam roh, semakin kita merasakan bahwa kita menyentuh Allah. Doa seperti itu adalah kuat. Oleh karena itu, kita tidak boleh berdoa hanya untuk orang lain. Kita kadang‑kadang perlu berdoa terlebih dahulu untuk diri kita sendiri agar kita dapat menyentuh Allah dalam doa, berdoa dalam roh, dan berdoa sesuai dengan roh.

Begitu kita menyentuh Allah, nada dan isi doa kita pasti akan berbeda. Jika kita berdoa selama dua puluh hingga tiga puluh menit di pagi hari, ini akan seperti menghirup udara segar rohani dan menyebabkan seluruh diri kita disegarkan dan bersukacita. Karena kita, sebagai bejana, penuh dengan minyak, seluruh diri kita akan dilunakkan, tunduk, dan penuh dengan kehadiran Tuhan. Jika kita menghirup udara segar rohani berkali‑kali sepanjang hari, banyak perkara yang menyebabkan kita khawatir dan cemas akan terlepas (ditanggalkan), dan kita tidak lagi merasa tertekan. Jika kita berdoa dengan roh kita untuk menghirup Tuhan, kita akan menyentuh kehadiran Tuhan dan sanggup mengatasi rintangan dari masalah‑masalah kita. Ketika air naik, perahu juga ikut naik di atas batu‑batu karang. Oleh karena itu, perkara yang paling krusial dalam berdoa adalah menggunakan organ yang tepat yaitu roh kita.


Sumber꞉ The Practice of Enjoying God by Eating and Drinking Him, CWWL, 1958, vol. 2, chp 3.