Pembacaan Alkitab : Gal. 1:13-16, Gal. 1:15a, 16a; 2Kor. 3:14-17; 4:3-6
Doa baca:
“ berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsabangsa bukan Yahudi...” (Galatia 1:16)
PUTRA ALLAH BERLAWANAN DENGAN AGAMA MANUSIA
Penyingkapan kebenaran di dalam Surat Galatia menyingkapkan pertentangan yang sangat tajam dan mutlak antara seluruh sistem agama manusia dan Persona yang hidup dari Putra Allah. Agama manusia, sebagaimana digambarkan secara sangat jelas dalam pengalaman awal Saulus dari Tarsus, tersusun dari aturan hukum Taurat, tata cara ritualistis yang kaku, serta tradisi buatan manusia dan adat istiadat nenek moyang yang dipertahankan dengan kegairahan fanatik. Sebelum mengalami kebangunan rohani yang sejati, Paulus adalah seorang Farisi yang sangat terpelajar dan jauh lebih maju di dalam agama Yahudi melebihi teman-teman sebayanya, bahkan menganiaya gereja Allah tanpa batas karena menganggap kehidupan gereja mengancam keberadaan agamanya. Namun, kegairahan religius yang kaku dan pemustikaan tradisi lahiriah ini sesungguhnya dijadikan oleh Allah sebagai latar belakang yang gelap guna menyatakan perkenan-Nya yang tertinggi. Pada waktu yang telah ditetapkan, Allah Bapa berkenan mewahyukan Putra-Nya secara batiniah di dalam diri Paulus, bukan melalui penglihatan fisik atau pengajaran doktrin objektif. Pengalaman transformatif ini membuktikan bahwa perhatian Allah sama sekali tidak tertuju pada aturan agama yang mati atau pemeliharaan tradisi lahiriah, melainkan secara mutlak berpusat pada perjumpaan subjektif dengan Persona yang hidup dari Putra-Nya.
Putra Allah yang diwahyukan ini merupakan perwujudan penuh dari Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh Kudus—yang tidak dapat dipisahkan di dalam pengalaman batiniah kaum beriman sehari-hari. Di dalam ekonomi ilahi, Firman yang kekal telah melalui proses inkarnasi menjadi manusia, menempuh kehidupan insani yang murni di bumi, serta menyerahkan diri-Nya dalam kematian salib dan kebangkitan untuk menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit bagi kita semua. Peristiwa mendasar di atas bukit pengubahan mengilustrasikan prinsip ilahi ini secara sangat jernih ketika Petrus mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah bagi Yesus, Musa yang mewakili hukum Taurat, dan Elia yang mewakili nabi-nabi. Allah Bapa membantah usulan manusiawi tersebut secara langsung dengan menegaskan dari dalam awan terang bahwa hanya Putra yang dikasihi-Nya itulah tempat perkenan-Nya, lalu melenyapkan Musa dan Elia hingga para murid hanya melihat Yesus seorang diri. Hal ini membuktikan bahwa di hadapan Allah, tidak ada tempat bagi syariat agama, tokoh sejarah, atau bayangan hukum Taurat, sebab seluruh kerealisaan dan tujuan akhir dari firman Allah telah terangkum secara utuh di dalam Persona Kristus yang bangkit dan berhuni di dalam batin manusia pilihan-Nya.
Kecenderungan alamiah manusia yang telah jatuh adalah memustikakan doktrin, karunia rohani, mukjizat, atau syariat tradisional seperti pemeliharaan hari Sabat dan penudungan kepala sebagai pengganti Kristus yang riil dan hidup. Padahal, segala perkara lahiriah tersebut hanyalah bayangan dari realitas sejati yang wujud utamanya adalah Kristus sendiri sebagai Roh pemberi-hayat yang berdiam secara riil di dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali. Bahkan, tindakan kebaikan yang bernilai moral tinggi seperti kasih suami atau ketaatan istri, jikalau dipraktikkan di luar persekutuan yang hidup dengan Kristus, hanya akan berujung pada penampilan tradisi agama yang mati dan sama sekali tidak memiliki nilai rohani di hadapan Allah Bapa. Oleh sebab itu, kehidupan kristiani yang sejati dan kehidupan gereja yang murni bukanlah mengenai kepatuhan pada aturan kaku atau aktivitas organisasi belaka, melainkan tentang diduduki, dikuasai, dan diperhidupkan oleh Putra Allah secara konstan dari hari ke hari. Kaum beriman dipanggil untuk berpaling dari seluruh sistem agama manusia dan senantiasa menikmati, mengalami, serta menyuplaikan kekayaan Persona yang hidup ini bagi pembangunan Tubuh Kristus sampai selama-lamanya.
PEWAHYUAN PUTRA ALLAH DI DALAM KITA
Wahyu utama Allah di dalam Alkitab terpusat secara utuh pada pengungkapan Persona yang hidup dari Putra-Nya, Kristus, yang bersifat rohani dan rahasia. Dari awal hingga akhir Kitab Suci, teristimewa dalam Perjanjian Baru, Kristus menduduki posisi paling inti dalam seluruh rencana Allah. Namun demikian, masalah terbesar yang dihadapi kaum beriman adalah kekurangan wahyu batiniah untuk melihat dan mengalami kerealisaan Persona yang hidup ini. Banyak orang Kristen dan agamawan terjebak di bawah berlapis-lapis selubung tebal yang merintangi pandangan mereka, mulai dari kebiasaan tradisi keagamaan, pemeliharaan syariat kaku, hingga hukum Taurat dan karunia rohani. Iblis selaku ilah zaman ini dengan sangat licik memanfaatkan segala perkara yang bukan Kristus untuk menutupi pandangan manusia. Iblis membujuk manusia bersandar pada pikiran alamiah yang tumpul, tegar, dan gelap, sehingga organ batiniah mereka menjadi buta terhadap Kristus yang riil. Akibatnya, sekalipun seseorang bertahun-tahun membaca Alkitab atau mempelajari pengajaran agama, ia tetap gagal menangkap Kristus yang hidup. Keadaan terselubung ini merintangi pengenalan akan Kristus serta membuat pikiran manusia mudah tersinggung dan menolak seluruh pekerjaan Roh Kudus yang sangat mulia.
Satu-satunya jalan untuk memecahkan kebuntuan rohani ini dan memperoleh wahyu batiniah adalah dengan bersedia membuang seluruh konsepsi pribadi serta memalingkan hati secara penuh kepada Tuhan. Sebagaimana dalam pengalaman Saulus dari Tarsus di jalan menuju Damsyik, Tuhan menyingkirkan selubung tebalnya ketika ia mendengar suara Tuhan dari surga. Setiap konsepsi manusia, baik yang bersifat daging maupun rohani, sesungguhnya merupakan selubung tebal yang menghalangi pancaran terang surgawi. Allah telah menyediakan organ khusus di dalam batin manusia, yaitu roh insani, sebagai tempat menerima dan menangkap Kristus yang riil tersebut. Ketika kaum beriman berdoa membuang setiap konsepsi dan memalingkan hati kepada Tuhan, selubung-selubung tersebut seketika disingkirkan, sehingga ilah zaman ini kehilangan seluruh kedudukan di dalam batin. Hati yang memalingkan diri kepada Tuhan membuat pikiran manusia menjadi transparan dan terbebas dari ikatan prasangka. Dalam kondisi batin yang murni ini, Roh Kudus dapat dengan bebas menyoroti roh manusia dan memancarkan terang ilahi ke dalam pikiran yang telah diterangi, sehingga kaum beriman menerima wahyu batiniah yang bersifat subjektif mengenai Putra Allah yang agung.
Pewahyuan Putra Allah di dalam batin manusia merupakan perkara yang paling mendatangkan perkenan di hadapan Allah Bapa, sebab seluruh kerinduan-Nya terpusat pada pengungkapan Persona Putra-Nya. Wahyu yang subjektif dan batiniah ini tidak sama dengan penglihatan fisik atau sensasi lahiriah di luar diri, melainkan beroperasi secara riil di dalam roh melalui pikiran yang diterangi. Pengalaman ini bekerja secara sangat efektif sewaktu kaum beriman memperhatikan batin mereka dan mendoa-bacakan ayat-ayat firman Tuhan, khususnya tulisan rasul Paulus, dengan penuh latihan roh. Semakin banyak wahyu batiniah diterima, Kristus akan semakin hidup, bertumbuh, dan terbentuk secara sempurna di dalam batin orang percaya. Kristus tidak lagi menjadi doktrin luar yang dingin, melainkan direalisasikan sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit dan tanah permai yang melimpah bagi kenikmatan sehari-hari. Pengalaman batiniah yang berkesinambungan ini melepaskan kaum beriman dari belenggu aturan keagamaan yang kaku dan mentransformasikan mereka menjadi suatu ciptaan baru secara riil. Dengan senantiasa membuang konsepsi, memalingkan hati kepada Tuhan, memperhatikan roh, dan menikmati Kristus melalui firman-Nya, kaum beriman dipimpin menuju perampungan tujuan kekal Allah Bapa.