Artikel

Sifat dan Fungsi Firman Allah

28 Jun 2026
6 menit baca

Timotius 3꞉16

Seluruh Kitab Suci diembuskan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (Tl).


FIRMAN ALLAH ADALAH UNTUK PERAWATAN

Ibrani 5꞉12‑14, mengatakan, “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas‑asas pokok dari perkataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab setiap orang yang terus minum susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang memiliki indra yang terlatih untuk membedakan yang baik dari yang jahat.” Kata “indra” mengacu kepada perasaan, menyiratkan kekuatan persepsi yang bergantung bukan saja pada kemampuan mentalitas kita, tetapi juga pada pengertian rohani kita. Dalam ayat‑ayat ini pemikiran penulis adalah firman Allah bukan hanya sebagai pengajaran, tetapi juga sebagai susu dan makanan keras.

Kemudian 1 Timotius 4꞉6 mengatakan, “Dengan selalu mengingatkan hal‑hal itu kepada saudara‑saudara seiman kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terawat dalam perkataan iman dan dalam ajaran sehat yang telah kau ikuti selama ini” (Tl.). Ayat ini membicarakan seorang pelayan Kristus Yesus, bukan seorang pengajar. Selain itu, ayat ini mengatakan bahwa pelayan yang demikian adalah “terawat”, bukan “diajar”. Timotius bukan pengajar yang meneruskan doktrin kepada orang lain; sebaliknya, dia melayankan Kristus sebagai realitas, hayat, dan segala sesuatu kepada orang lain. Rasul Paulus menganggap firman Allah adalah makanan untuk merawat orang. Ketika kita membaca firman Allah, kita perlu terawat oleh firman.


SIFAT FIRMAN ALLAH

Sifat meja kayu adalah kayu. Kayu adalah substansi, esensi, dan sifat meja. Lalu, apakah substansi, esensi, dan sifat firman Allah? Jawaban pertanyaan ini bisa ditemukan dalam 2 Timotius 3꞉16, yang mengatakan, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan (diembuskan) Allah.” Seluruh Kitab Suci adalah embusan Allah, nafas Allah, dan Allah adalah Roh (Yoh. 4꞉24). Roh adalah sifat Allah, esensi Allah. Sama seperti kayu adalah esensi meja kayu, Roh adalah esensi Allah. Firman Kitab Suci adalah embusan Allah, dan apa pun yang diembuskan Allah adalah roh. Jadi, esensi, sifat firman Allah adalah roh. Firman Allah bukan hanya sejenis pengajaran atau doktrin; firman Allah adalah roh. Sekarang kita dapat memahami mengapa Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa perkataan yang Dia katakan kepada kita adalah roh dan hayat (Yoh. 6꞉63). Dia tidak mengatakan bahwa perkataanNya adalah pemikiran, ide, pengajaran, atau doktrin. Perkataan‑Nya adalah roh dan hayat. Ketika firman Allah menjadi roh bagi kita, firman ini menjadi hayat bagi kita. Jika firman hanya sekadar pemikiran atau pengajaran, firman tidak pernah dapat menjadi hayat bagi kita. Bila firman adalah roh, firman itu juga hayat. Terpisah dari apa yang firman Allah ajarkan atau wahyukan, isi firman Allah adalah esensi Allah. Akibatnya, kapan kala kita menjamah firman Allah, kita bukan hanya perkara menjamah pemikiran, wahyu, pengajaran, atau doktrin mengenai Allah. Ini adalah perkara menjamah Allah sendiri dalam esensi‑Nya, yaitu, Roh. Kita perlu satu perubahan radikal dalam konsepsi kita mengenai firman Allah. Untuk mempraktikkan doa‑baca dengan tepat, kita semua perlu memiliki pemahaman dan konsepsi demikian.


FUNGSI FIRMAN ALLAH

Fungsi Alkitab bukan hanya memberi tahu kita siapakah Allah atau apakah Allah. Fungsi Alkitab lebih subyektif dibandingkan hal ini. Fungsi utama Alkitab adalah untuk menggarapkan diri Allah sendiri ke dalam kita. Fungsinya bukan hanya menggarapkan pengetahuan tentang Allah, tentang hati Allah, atau tentang kasih Allah tetapi Allah sendiri digarapkan ke dalam kita melalui buku ini. Satu Yohanes 2꞉27 mengatakan, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain.” Pengajaran pengurapan bukan melalui mendengar perkataan, tetapi melalui “mengecat”. Fungsi pengurapan bukan hanya memberi kita pengetahuan tentang Allah secara obyektif, tetapi juga untuk menggarapkan esensi Allah ke dalam batin kita secara subyektif melalui “mengecat” kita dengan Allah sebagai cat ilahi. Melalui menggarapkan esensi Allah ke dalam kita dengan pengurapan, kita mengenal Allah secara batini. Dengan jalan yang sama, kita harus menyadari bahwa fungsi firman Allah bukan hanya mengajar kita secara obyektif, tetapi juga membawa Allah ke dalam kita secara subyektif. Firman Allah menggarapkan diri Allah ke dalam kita sebagai unsur perawatan. Firman Allah mengajar kita bukan dengan huruf‑huruf, tetapi dengan hayat, melalui esensi ilahi.


MAKSUD KITA DALAM MENERIMA FIRMAN

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan adalah apa yang kita inginkan ketika kita membaca Kitab Suci. Ketika kita datang kepada firman, kita harus datang bukan hanya untuk memahami, mengetahui, atau mempelajari, tetapi juga untuk menikmati, menerima, makan, dan minum. Ketika kita memperhatikan kehidupan kristiani kita di masa lampau, kita harus memperhatikan berapa banyak esensi Allah yang kita terima dari pembacaan Alkitab kita? Berapa banyak kita menikmati firman Allah sebagai makanan untuk merawat roh kita? Sayangnya, kita harus mengakui bahwa kita sangat sedikit menikmati firman. Inilah alasannya kita perlu belajar doa‑baca. Kita seharusnya tidak menuntut memahami Alkitab semata; kita harus mendoabacakan firman dalam Alkitab. Dalam pengertian yang positif, kita perlu melupakan usaha memahami Alkitab. Sebaliknya kita perlu mendoabacakan firman agar dirawat dengan esensi Allah melalui firman‑Nya. Alkitab bukan pohon pengetahuan, melainkan pohon hayat. Jika kita membaca Alkitab hanya untuk pengetahuan, kita menyalahgunakan firman Allah; kita menerima firman Allah sebagai huruf‑huruf, dan huruf‑huruf itu mematikan (2 Kor. 3꞉6). Firman Allah adalah firman hayat; bukan huruf-huruf.


CARA MENJAMAH DAN MENERIMA FIRMAN

Caranya adalah dengan melatih roh kita untuk mendoabacakan firman Allah. Ketika kita membaca firman untuk perawatan, tidak perlu kita memberi penjelasan, keterangan, atau penafsiran. Kita tidak hanya bisa berdoa setelah kita memahami beberapa firman dalam Alkitab. Kita tidak mengenal semua makanan yang kita makan. Bahkan ahli makanan pun tidak tahu segala sesuatu tentang makanan. Kita makan makanan sebelum kita memahaminya. Setelah kita dilahirkan, kita makan secara buta dan bodoh, tanpa memahami apa pun. Kita makan, dan kita bertumbuh oleh apa yang kita makan. Kedengarannya ini kekanak‑kanakan, tetapi ini sangat riil. Ketika kita menghampiri firman, kita tidak perlu melatih pikiran kita terlalu banyak untuk memahami firman. Dalam satu pengertian, kita perlu buta, bahkan bodoh.

Ketika kita membaca Yohanes 1꞉1, tanpa melatih pikiran kita untuk mencoba memahami apa yang kita baca, kita dapat berdoa, “Tuhan, kami memuji Engkau. Pada mulanya ada Firman. Haleluya! Walaupun saya tidak memahami apa Firman itu, Firman itu ada di sana. Puji Tuhan! Pada mulanya ada Firman, dan Firman itu ada bersama dengan Allah. Pada mulanya. Haleluya! Pada mulanya. Oh Tuhan! Pada mulanya ada Firman, dan Firman itu ada Bersama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Saya mendorong Anda untuk berdoa seperti ini. Tidak perlu menyusun kalimat atau menciptakan satu doa. Doa bacakan saja perkataan Alkitab apa adanya. Akhirnya, Anda akan melihat bahwa seluruh Alkitab adalah buku doa. Anda dapat berdoa dengan kata‑kata pada setiap ayat di setiap halaman.

Karena firman Allah adalah embusan-Nya, cara yang tepat untuk menerimanya adalah menghirupnya. Embusan ilahi penuh dengan perawatan. Semakin banyak Anda menghirup firman, semakin baik. Apapun yang Allah embuskan, kita harus menghirupnya. Kita dapat menghirup firman melalui melatih roh kita untuk mendoabacakan firman. Tidak perlu menjelaskan atau menguraikan firman. Doakan saja perkataan yang kita baca. Inilah yang kita sebut doa‑baca.


Sumber꞉ Doa‑Baca Firman, Bab 1